Selasa, 20 Desember 2011

Tugas B. Indonesia Penalaran Deduktif

Nama : Syuhada Makarim
NPM : 22209295
Kelas : 3 EB 13

I. Penalaran Deduktif

Penalaran deduktif adalah suatu penalaran yang berawal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Penalaran ini biasanya didasarkan atas prinsip, hokum, teori atau putusan lain yang berlaku umum untuk suatu hal ataupun gejala. Selain itu, metode ini diawali dari pembentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan. Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala.
Deduksi ialah proses pemikiran yang berpijak pada pengetahuan yang lebih umum untuk menyimpulkan pengetahuan yang lebih khusus.
Di dalam penalaran deduktif, berdasarkan atas premis itu ditarik kesimpulanya yang sifatnya lebih khusus. Dengan demikian, sebenarnya, penarikan kesimpulan secara deduktif itu secara tersirat sudah tercantum dalam premisnya. Sifat itu membedakan penalaran deduktif dari penalaran induktif.
Bentuk standar dari penalaran deduktif adalah silogisme, yaitu proses penalaran di mana dari dua proposisi (sebagai premis) ditarik suatu proposisi baru (berupa konklusi).

II. Silogisme

Merupakan suatu cara penalaran yang formal. Penalaran dalam bentuk ini jarang ditemukan/dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kita lebih sering mengikuti polanya saja, meskipun kadang-kadang secara tidak sadar. Misalnya ucapan “Ia dihukum karena melanggar peraturan “X”, sebenarnya dapat kita kembalikan ke dalam bentuk formal berikut :

a. Barang siapa melanggar peraturan “X” harus dihukum.
b. Ia melanggar peraturan “X”
c. Ia harus dihukum.

Bentuk seperti itulah yang disebut silogisme. Kalimat pertama (premis ma-yor) dan kalimat kedua (premis minor) merupakan pernyataan dasar untuk menarik kesimpulan (kalimat ketiga).
Pada contoh, kita lihat bahwa ungkapan “melanggar …” pada premis (mayor) diulangi dalam (premis minor). Demikian pula ungkapan “harus dihukum” di dalam kesimpulan. Hal itu terjadi pada bentuk silogisme yang standar.
Akan tetapi, kerap kali terjadi bahwa silogisme itu tidak mengikuti bentuk standar seperti itu. Misalnya :

a. Semua yang dihukum itu karena melanggar peraturan
b. Kita selalu mematuhi peraturan
c. Kita tidak perlu cemas bahwa kita akan dihukum

• Pernyataan itu dapat dikembalikan menjadi:
a. Semua yang melanggar peraturan harus dihukum
b. Kita tidak pernah melanggar (selalu mematuhi) peraturan
c. Kita tidak dihukum.

• Secara singkat silogisme dapat dituliskan { JikaA=B dan B=C maka A=C }

• Silogisme dapat dibedakan menjadi tiga yaitu :

1. Silogisme Kategorial

Silogisme kategorial disusun berdasarkan klasifikasi premis dan kesimpulan yang kategoris. Premis yang mengandung predikat dalam kesimpulan disebut premis mayor, sedangkan premis yang mengandung subjek dalam kesimpulan disebut premis minor.
Yang perlu dicermati adalah pola penalaran yang digunakan dalam silogisme kategorial, biasanya dalam kehidupan sehari-hari kita tidak demikian terlihat, entah di realita pembicaraan sehari-hari, lewat surat kabar, majalah, radio, televisi, dan lain-lain. Oleh sebab itu, dalam menyimak atau mendengarkan atau menerima pendapat seseorang, kita perlu berpikir kritis melihat dasar-dasar pemikiran yang digunakan sehingga kita dapat menilai seberapa tingkat kualitas kesahihan pendapat itu. Dalam hal seperti ini kita perlu menenentukan:

1. Kesimpulan apa yang disampaikan;
2. Mencari dasar-dasar atau alasan yang dikemukakan sebagai premis-premisnya
3. Menyusun ulang silogisme yang digunakannya; kemudian melihat kesahihannya berdasarkan ketentuan hukum silogisme.

Berdasarkan hal tersebut tentu saja kita akan mampu melihat setiap argumen, pendapat, alasan, atau gagasan yang kita baca atau dengar. Dengan demikian, secara kritis kita mengembangkan sikap berpikir ke arah yang cerdik, pintar, arif, dan tidak menerima begitu saja kebenaran / opini yang dikemukakan pihak lain. Berdasarkan hal inilah akhirnya kita mampu menerima, meluruskan, menyanggah, atau menolak suatu pendapat yang kita terima.

• Hukum-hukum Silogisme Katagorial

1. Apabila dalam satu premis partikular, kesimpulan harus parti¬kular juga, seperti:
 Semua yang halal dimakan menyehatkan
 Sebagian makanan tidak menyehatkan,
 Jadi Sebagian makanan tidak halal dimakan
 (Kesimpulan tidak boleh: Semua makanan tidak halal dimakan).

2. Apabila salah satu premis negatif, kesimpulan harus negatif juga, seperti:
 Semua korupsi tidak disenangi.
 Sebagian pejabat adalah korupsi,
 Jadi sebagian pejabat tidak disenangi.
 (Kesimpulan tidak boleh: Sebagian pejabat disenangi)

a. Dari dua premis yang sama-sama negatit, tidak mendapat kesimpulan apa pun, karena tidak ada mata rantai ya hubungkan kedua proposisi premisnya. Kesimpul diambil bila sedikitnya salah satu premisnya positif. Kesimpulan yang ditarik dari dua premis negatif adalah tidak sah.
 Kerbau bukan bunga mawar.
 Kucing bukan bunga mawar.
….. (Tidak ada kesimpulan)

b. Paling tidak salah satu dari term penengah haru: (mencakup). Dari dua premis yang term penengahnya tidak ten menghasilkan kesimpulan yang salah, seperti:
 Semua ikan berdarah dingin.
 Binatang ini berdarah dingin
 Jadi: Binatang ini adalah ikan.
(Padahal bisa juga binatang melata)

c. Term-predikat dalam kesimpulan harus konsisten dengan term redikat yang ada pada premisnya. Bila tidak, kesimpulan lenjadi salah, seperti
 Kerbau adalah binatang.
 Kambing bukan kerbau.
 Jadi: Kambing bukan binatang.
(‘Binatang’ pada konklusi merupakan term negatif sedang- kan pada premis adalah positif)

d. Term penengah harus bermakna sama, baik dalam premis layor maupun premis minor. Bila term penengah bermakna mda kesimpulan menjadi lain, seperti:
 Bulan itu bersinar di langit.
 Januari adalah bulan.
 Jadi: Januari bersinar di langit.
(Bulan pada premis minor adalah nama dari ukuran waktu yang panjangnya 31 hari, sedangkan pada premis mayor berarti planet yang mengelilingi bumi).

e. Silogisme harus terdiri tiga term, yaitu term subjek, preidkat, dan term menengah
( middle term ), begitu juga jika terdiri dari dua atau lebih dari tiga term tidak bisa diturunkan komklsinya.


2. Silogisme Hipotesis

Silogisme hipotesis adalah argumen yang premis mayornya berupa proposisi hipotesis, sedangkan premis minornya adalah proposisi kategorik yang menetapkan atau mengingkari term antecindent atau terem konsekuen premis mayornya . Sebenarnya silogisme hipotesis tidak memiliki premis mayor maupun premis minor karena kita ketahui premis mayor itu mengandung terem predikat pada konklusi , sedangkan primis minor itu mengandung term subyek pada konklusi. Pada silogisme hipotesis term konklusi adalah term yang kesemuanya dikandung oleh premis mayornya, mungkin bagian antecindent dan mungkin pula bagian konsekuensinya tergantung oleh bagian yang diakui atau di pungkiri oleh premis minornya. Kita menggunakan istilah itu secara analog , karena premis pertama mengandung permasalahan yang lebuh umum , maka kita sebut primis mayor , bukan karena ia mengandung term mayor. Kita menggunakan premis minor , bukan karena ia mengandung term minor , tetapi lantaran memuat pernyataan yang lebih khusus.
Macam tipe silogisme hipotesis :

a) Silogisme hipotesis yang premis minornya mengakui bagian antecedent, seperti :
• Jika hujan, saya mengenakan jas hujan.
• Sekarang hujan.
• Jadi saya mengenakan jas hujan.

b) Silogisme hipotesis yang premis minornya mengakui bagian konsekuensinya, seperti :
• Bila hujan, air sungai akan meluap.
• Sekarang air sungai telah meluap.
• Jadi hujan telah turun.

c) Silogisme hipotesis yang premis minornya mengingkari antecendent, seperti :
• Jika Nurdin Halid tidak mundur, maka kerusuhan akan timbul.
• Nurdin Halid mundur.
• Jadi kerusuhan tidak akan timbul.

d) Silogisme hipotesis yang premis minornya mengingkari bagian konsekwensinya, seperti :
• Bila mahasiswa turun ke jalanan, pihak penguasa akan gelisah.
• Pihak penguasa tidak gelisah.
• Jadi mahasiswa tidak turun ke jalanan.

• Contoh silogisme hipotesis :

Premis Umum : Semua burung mempunyai sayap.

Premis Khusus : Merpati adalah burung.

Kesimpulan : Merpati mempunyai sayap.

3. Silogisme Alternatif

• Bentuk Silogisme Alterantif :
- Memiliki premis mayor dan premis minor.
- Premis mayor menggunakan ungkapan alternatif.
- Premis minor menolak salah satu pilihan.
- Memiliki satu konklusi.

• Misal :
Premis mayor : A atau B
Premis minor : Bukan A
Konklusi : B

Premis mayor : A atau B
Premis minor : Bukan B
Konklusi : A




III. Entimen (silogisme yang diperpendek)

Entimen merupakan jenis silogisme yang tidak memunculkan Premis Umum,langsung dimulai dengan KEsimpulan dan Premis khusus sebagai penyabab.

• Contoh:

Silogisme:

Premis Umum: Orang yang baik tidak mau berbohong

Premis Khusus: Tino orang yang baik

Kesimpulan Tino tidak mau berboohong

Entimen

Tino tidak mau berbohong sebab ia orang yang baik.